Tampilkan postingan dengan label atresia ani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label atresia ani. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Oktober 2023

GDD Global Development Delay

Long time no write...

Mendampingi anak anak dan mengurus rumah sudah menjadi hal biasa sekarang. Antar jemput si kakak dan drop si adik ke daycare. Kenapa kok si adik ke daycare? Padahal mamanya di rumah. Ceritanya panjang dan tentunya ada urusannya juga sama perkara drama Asisten Rumah Tangga. Setelah resign dan full di rumah, saya baru merasakan betapa ribetnya jadi emak-emak. Beda sama wanita karir yang punya banyak waktu aktualisasi diri di luar sana. Soal masalah, tentunya keduanya punya masalah masing-masing donk. Tidak mungkin full baik -baik aja.
 
Jadi setelah si bontot lahir dengan prematur, BBLSR, sering lupa nafas serta erb palsy, tibalah waktunya konsul ke tumbuh kembang karena perkembangannya tidak sesuai. Dan jreng!!! Dinyatakanlah GDD alias Global Delay Development. Sempet mikir itu apaan ya.. Oh kalo bbrp/hampir semua perkembangannya ga sesuai usia. Contohnya seperti belon bisa duduk, belon bisa makan bubur, belon bisa ngomong. Padahal waktu konsul itu usia si bontot udh 1 tahun. Loh kok 1 tahun belon duduk baru dibawa ke Tumbuh kembang? Ya kalo bisa bawa pas 1 tahun atau kurang, pasti kita bawa. Cuma kan karena operasi atresia ani dan lain lainnya, dokter menyarankan setelah operasi saja karena fisik anak lemah. Lagian juga kudu antri panjang bgt deh buat dipanggil konsul. Maklum, waktu itu juga pasca pandemi.

Awalnya dulu hanya dapat dua terapi, terapi makan dan fisioterapi. Tapi, ternyata dokternya khilaf, karena harusnya ada okupasi terapi. Ah dasar manusia. Hingga akhirnya 1.5 tahun berlalu, sekarang si bontot udh 2.5 tahun. Meski belum juga lulus dari 3 terapi tersebut tapi ya lumayan lah. Udah mulai jalan dan ngerambat dikit dikit. Panik? Pasti panik. Tapi daripada curhat ke orang- orang yang nyepelein perasaan panik kita, mending dipendem aja. 

Rabu, 26 Januari 2022

Membuat Kolostomi untuk bayi atresia ani

Kali ini, saya mau bagikan cara membuat kolostomi untuk si kesayangan kami, Ijan. Modalnya murah meriah. Ide ini juga kami dapatkan dari youtube salah satu orangtua yang anaknya menderita atresia ani. Nanti akan kami lampirkan link youtube mereka dibawah.

Pada awalnya kami gak bikin sendiri kantong kolostomi buat si bontot tapi beli. Dan subhanallah mahal bener. Kami beli kolostomi yang bisa dipakai beberapa hari tapi pada prakteknya bocor deui plus ribet juga bersihinnya, kayak yang ga bisa bersih-bersih banget, masih ada nempel-nempel kotorannya. Ketika kontrol ke dokter bedaknya si Bapak dr Catur Suzantra bilang bikin aja, biasanya pasiennya yang lain bikin sendiri. Daripada nanti ribet sendiri plus bingung bersihinnya.Okelah pak dokter. 

                ini yang beli, versi murmer
      
Oh iya sebenarnya ada opsi beli kolostomi yang sekali pakai juga. Ijan waktu di NICU pakai yang sekali pakai terus, suster bilang diganti per dua jam agar tetap bersih. Dan harga kolostominya Innalilahi.  Kalau diitung sehari mah bisa banget buat biaya makan rame rame. 


Nah, yang perlu disiapin untuk membuat kolostomi sendiri yaitu hipafix, kantong plastik zipper, double tape dan underpad. Aku lampirin gambarnya di bawah yah biar mudeng.



1. Bolongin plastik zipper kira kira aja ukuran plastik zippernya , kalo aku pakai yang 11 x 8 cm. Nah dibolonginnya terserah mau bentuk kotak segi empat atau bulat yang penting muat kolostomi anak kita.

2. setelah itu, letakkan underpad buat tutupin lubang yang kita buat tadi.

3. Tempel underpad ke plastik zipper dengan menggunakan double tape.

4. lalu bentuk lubang lagi dengan melubangi underpad yang menutupi lubang yang kita bikin di awal.

5. Lepaskan double tape bagian atas, lalu kita tempelkan hipafix. 

taraaa...siap pakai...jadi yang menempel di kulit anak kita adalah bagian hipafix.



ini photo ketika dipakai di kolostominya yah. Kutambahkan kain kasa biar nyerep.



Untuk lebih jelas dan asal sumber ide orisinilnya bisa diliat di youtube ini:


https://youtu.be/v8gCbDT23Qc

Senin, 10 Mei 2021

Jam 2 malam itu...

Tak pernah sebersitpun terpikirkan kalau menjelang dini hari itu, pada jam dimana semua orang terlelap tiba-tiba aku seperti tersambar petir. Ketuban pecah mengalir deras seketika tepat jam dua dini hari. Sontak aku bangun dari tidur karena kupikir mungkin kayak anak kecil, pipis di celana. Ketika aku ke arah toilet rumah, air itu tidak berhenti keluar dengan deras. Anak balitaku kebetulan sedang terjaga dan dia ikut terlihat menangis melihat ibunya panik dan berurai air mata.


Sampai sekarang kuingat betul detik demi detik tanggal 18 Februari 2021 itu. Aku ingat sekali wajah suamiku ketika bangun dan kaget melihat diriku berdiri panik dan bingung, aku ingat betul raut wajah si kakak yang awalnya bahagia mengira mau jalan-jalan naik mobil tapi tiba-tiba suram ketika melihat aku perlahan menjauh dengan bantuan kursi roda yang didorong oleh salah satu petugas jaga di salah satu rumah sakit langganan kami di Depok itu. Aku juga ingat tatkala seorang perawat menanyakan aktifitasku sebelum ini dan kemudian berkata mau tak mau bayiku harus dikeluarkan secara cesar karena cairan ketuban akan habis yang hanya kurespon dengan air mata yang mengalir deras tanpa sedikit pun suara atau isakan karena sebelumnya suamiku melarang aku menangis agar tidak panik. 

Pun begitu ketika siuman, kuingat betul suamiku tidak pernah menangis terisak-isak. Namun hari itu, kulihat air matanya tidak pernah berhenti. Yang kutau selama ini, air mata laki-laki itu mahal harganya, maka ketika mereka menangis, berarti kejadian itu sangat betul-betul melukai dirinya.

Kami semakin larut dalam kesedihan ketika mendengar bayi kami hanya seberat 1.3 kg dan menderita atresia ani. Iya, atresia ani. Sebuah penyakit bawaan lahir dimana anus belum terbentuk yang artinya bayiku tidak memiliki anus. 

Aku ingat betul setelah anak keduaku lahir, tidak pernah kulihat sama sekali wajahnya,  berbeda ketika si kakak lahir dulu kulihat betul wajah dan seluruh badannya sampai bisa kupeluk si kakak dulu. Mungkin ini adalah SOP dimana kelahiran prematur harus cepat-cepat diselamatkan ke ruang nicu dengan penanganan yang sigap di waktu golden time sekitar 1 jam setelah kelahiran untuk menyelamatkan neonatus. 

Aku baru bisa bertemu dengannya ketika diizinkan pulang dan bergegas menemuinya ke ruang NICU. Rasanya seperti ada petir menyambar disertai pukulan keras di dada ketika kulihat putraku untuk pertama kali. Dia berbaring lemah di inkubator dengan banyak selang di sekujur tubuhnya. Kakinya sangat kecil sekali, hampir sebesar ibu jari tanganku.

Mungkin disitulah aku belajar kuat, atau belajar pura-pura kuat. Karena mustahil ada ibu yang kuat melihat bayinya dengan keadaan seperti itu, yang ada hanyalah menahan perih seperti ada sebuncah api di dada yang membakar. Dimana pikiranku menerawang bahwa seharusnya tahun itu kami  bahagia menyambut kelahiran putra kami. 

Sampai sekarang, kuingat setiap detail peristiwanya. Tidak ada satupun dari kami yang tidak berderai airmata. Begitupun putriku yang masih berusia tiga tahun....

GDD Global Development Delay

Long time no write... Mendampingi anak anak dan mengurus rumah sudah menjadi hal biasa sekarang. Antar jemput si kakak dan drop si adik ke d...